Part 3
Aku segera merapikan pakaian dan menghampiri mereka..
” Halo dedek… Ga kuliah hari ini???maaf Bu ada apa ya? Tanyaku masih rada malu
‘ Oh.. Maaf juga ya pak Roy, kita jadi mengganggu. Ini dedek katanya mau kenalan sama pacarnya pak Roy. Dia kepengen banget jadi pramugari.. Kata bu ari menjelaskan
Ayo masuk dulu… Kataku..
Aku lihat bu Ari usianya sekitar 40 tahun tubuhnya yg padat berisi dengan rambut pendek kulit nya kuning Langsat dan yang bikin gregetan buah dadanya lumayan besar nampak menggembung di balik kaosnya
Sedangkan anaknya yang sering dipanggil dedek gadis abg yang enerjik wajahnya manis dengan lesung pipinya,bibirnya tipis, tinggi semampai dan di balik kemeja casual dengan kancing bajunya terbuka 2 dari atas dan celana pendeknya setengah paha nya. Sangat pantas kalau jadi pramugari atau model… Bibir itu seandainya bisa aku lumat… Pasti rasanya manis.. Pikiran ku mulai mesum
Tak lama Vivi keluar dan sudah ganti pakaian yang tak kalah seksi nya dengaan dedek, cuma Vivi menggunakan kaos putih yang ketat dan pendek sehingga perutnya yang putih bersih terihat bagian bawah dan celananya yang dipakai lebih pendek dengan yang di pakai dedek
Sehingga paha nya yang mulus terlihat jelas
” Maaf yang tadi ya buk… Roy nakal bangett mentang-mentang sudah lama ga ketemu jadi gemes katanya… Aku Vivi katanya sembari menjabat tangannya bu ari dan dedek
Hem.. Bisa aja Vivi cari alesannya.. Hahaha kata aku dalam hati
” Dedek memang nya pengen jadi pramugari?? Tanya Vivi
‘ Iya ka.. Dari kemarin pengen cari informasi tapi belum dapat yang akurat, tadi pas lihat kesini ada Pak Roy dan sama kakak yang kebetulan memakai seragam pramugari.. Kata dedek..
Aku perhatikan 2 kali bu ari curi curi pandang ke arah ku dan yang kedua pas tatap pan muka dengan aku, dia tersenyum malu
” Begini saja.. Besok kan aku balik ke Jakarta, nanti kalau dedek ga ada kesibukan bisa ikut kita, nanti biar vivy antar ke tempat sekolah dulu.. Kata Vivi…
” Mau.. Mau Kak… Boleh ya mah… Kata dedek menjawab Vivi dan bertanya kepada mamahnya
” Nanti jadi ngrepotin kamunya.. Belum kamu baliknya sama siapa?? Jawab bu Ari
” Ga apa apa Bu.. Nanti saya yang anterin. Kan saya masih ada janj’i sama Bu maysaroh…
Aku kaget begitu juga Vivi dan bu ari melihat dedek berdiri dan memeluk ku
” Asyik makasih Pak Roy… Aku seperti punya kakak cowok katanya sambil memeluk aku saking girangnya. .
” Dedek.. Ihhh malu sama kak Vivi, ntar marah kamu peluk 2 Pak Roy.. Kata bu Ari
” Ahh.. Mamah, gak apa apa kan ya Kak.. Sembari tersenyum lihat Vivi
” Iya boleh.. Ga apa apa dek aku dan Roy cuma teman lama yang sudah akrab.. Jawab Vivi sambil melihat aku
Jujur aku gregetan dan gemes melihat tingkah dedek.. Bahkan saat dia memeluk ku.. Otong ku tiba-tiba berontak. Gadis remaja yang masih polos
Setelah cukup lama kita ngobrol kesana kemari, aku menyimpulkan kalau bu Ari sama dedek jarang sekali dapat perhatian dari suaminya atau Ayah dedek, yang sibuk dengan pekerjaannya
” Roy aku heran sama kamu?? Tanya Vivi
” Maksud kamu heran bagaimana vi? Jawabku
” Aku jalan sama kamu baru 1 hari dengan mata kepalaku sendiri 3 orang perempuan kamu bikin takluk. Padahal kalau aku perhatikan kamu ga pakai rayuan gombal segala… Kata Vivi sambil melihat aku tajam..
” Apa jangan jangan kamu pakai ilmu pelet ya katanya penuh selidik..
” Kok kamu tau Vi.. Tapi kalau kamu mau bisa lihat jelas ilmu pelet yang aku gunakan.. Coba kamu meremin mata kamu, dan konsentrasi pakai mata batin kamu… Kataku
” Awalnya Vivi ragu… Tetapi akhirnya dia meremin mata nya dengan dahinya seakan berusaha memfokuskan sesuatu… Aku pengen tertawa.. Yes aku berhasil ngerjain dia, aku dekat kan wajahku ke depan wajahnya dan aku jilat bibirnya yang sedikit monyong kedepan
” Aihhh apaan seh kamuhhhh malah jilatin bibirku.. Jorok ahh.., sembari cubit perutku
” Aduhh.. Ampunn dewi pelet sakit… Kataku
Dan akun gotong tubuhnya masuk ke dalam kamar..
” Hei mau ngapain… Roy.. Awas ya kalau berani macam macam katanya sembari manyunin mulutnya
” Mau lanjutin yang tadi.. Kataku..
Vivi hanya tersenyum, stelah aku turunkan Vivi dengan beringas nya melepaskan semua pakaian ku sampai telanjang
Aku hanya melongo ketika Ia mulai menciumi dadaku. Bisa dibilang ini pertama kalinya aku melakukan aktivitas seksual dimana si wanita yang memulainya dengan agresif, sementara aku hanya berdiam diri menikmati perlakuannya. Otongku pun tak kuasa menahan rangsangan yang diberikan oleh Vivi, perlahan tapi pasti penisku mulai mengeras. Vivi menghentikan remasannya dan melihatku dengan mata indahnya sambil perlahan menurunkan badannya. Ia jongkok sambil memerhatikan otong ku. Dikocoknya pelan, lalu dijilatnya batang penisku dari pangkal sampai ujung.
“Uhhh, vi!” Teriak ku kecil karena geli.
Vivi memasukan kepala penisku ke dalam mulutnya. Rasa nikmatnya kembali menjalar diseluruh badanku. Kepala Vivi mulai maju mundur dengan penisku yang menyumpal penuh mulutnya. Aku diam tak bersuara, menikmati birahi yang sudah lama tak ku rasakan. Aku hanya bisa merapihkan rambut vivi dan memeganginya agar tidak mengganggu aktivitasnya yang membuatku merasa terbang seperti ke awang-awang.
Hampir lima menit Vivi melayani penisku dengan mulutnya yang dihiasi bibir tipis tersebut. Aku pun memintanya untuk berdiri, lalu menciumi bibirnya. Ciuman panas antara kami berdua begitu bergairah. Bibir kami berpagutan, lidah kami saling serang satu sama lain. Aku mendorong tubuh vivi ke arahku agar semakin rapat. Bisa kurasakan payudaranya yang cukup besar menempel di dadaku. Terasa desiran di seluruh tubuhku saat tubuh Vivi begitu dekat dengan tubuhku.
Aku coba meremas payudaranya, Vivi sedikit menggelinjang tanpa protes. Justru ciumannya semakin bergairah saja. Aku pun semakin bernafsu dan bersemangat. Tanpa basa-basi, aku angkat pakaian Vivi, dan dengan sekali hentakan bra-nya yang berwarna hitam itu pun terlepas. Kini dua gundukan payudara bulat yang kencang dan indah itu dengan menantang menghadap padaku. Segera ku remas lagi ke dua payudara tersebut sambil lidahku berusaha menyapu seluruh permukaan kulit leher
Vivi yang jenjang dan putih itu.
“Uhhh, massssss. Hmmm, enak roy….” desis Vivi pelan.
Tanganku yang masih belum puas meremas payudara Vivi berusaha untuk menurunkan celananya yang berwarna biru tua itu. Setelah kancing celana aku buka dan kuturunkan sedikit, selebihnya aku gunakan kakiku untuk menurunkan sepenuhnya celana Vivi. Terlihat celana dalamnya yang berwarna putih memiliki bercak basah disekitar area vaginanya.
“Sudah nafsu sekali sepertinya wanita ini…” Gumamku dalam hati.
Kali ini bagian ku. Aku menurunkan tubuhku dan bertumpu pada lututku. Ku ciumi paha vivi yang jenjang dan sangat mulus itu sambil tanganku meremas pantatnya yang cukup keras itu. Vivi menggelinjang dengan desisan pelan sambil meremas kepala dan rambutku. Aku turunkan celana dalam Vivi. Terlihat vaginanya yang merah merekah tanpa sehelai bulu kemaluan. Begitu basah, namun harum yang membuatku tak sabar untuk menikmatinya.
Ku geserkan sedikit kaki Vivi agar bibir dan lidahku mudah menjangkau vaginanya tersebut. Vivi hanya menurut. Ku usapkan lidahku di bibir vaginanya yang tebal itu. “Aahhh Roy!” Teriak Vivi. Ku mainkan terus lidahku di klitorisnya yang sudah membesar tersebut. Ku rasakan tubuh Vivi bergetar. Mungkin karena memang berdiri tanpa sandaran, dan perlakuanku padanya membuat kaki kakinya menjadi semakin lemas dan bergetar seiring nikmat yang ia dapatkan di vaginanya dari lidahku. Sesekali kususupkan kedua jariku ke dalam vaginanya. Erangannya pun semakin menjadi, ditambah tangan ku yang satu lagi tak henti hentinya meremas pantatnya yang begitu seksi.
“Roy… Aku mau keluar, Roy…. Uhhhhh….” Desis Vivi sambil meremas rambutku makin kencang.
Tidak lama berselang, vivi pun mencapai orgasmenya yang pertama dengan ku. “Aaaaaaaaaaaaaaahhhhhhh, royyyyy…… Aku keluarrrrr uoooohhh….!” Teriaknya. Vivi menikmati orgasmenya yang pertama dengan tubuh sedikit menunduk dan tangannya bertumpu di kedua pundakku. Aku hanya melihat ekspresi mukanya yang terlihat begitu menikmati permainanku dan mulut yang sedikit terbuka dan mata yang tertutup rapat.
“Hoooh, hoooooh…” Erang Vivi. “Enak banget, Roy… Aku pertama kali loh keluar lagi berdiri gini, sumpah lemes abis….” Kata Vivi.
Aku tersenyum sambil berdiri dengan tangan ku yang masih mengelus elus vagina Vivi.
“Baru pakai lidah sama jari aja udah lemes, gimana kalau pakai ini?” Tanyaku pada Vivi sambil menarik tangannya dan meletakannya di penisku yang masih menegang dari tadi.
Vivi lalu membuka matanya dan kembali melihatku dengan tatapan nakalnya. Tangannya mengocok pelan penisku.
“Hmm, ga tau sih. Gimana kalau dicoba aja langsung?” pinta Vivi nakal.
Aku mengangguk pelan tapi tangannya tetap meremas penisku.
, aku membalik tubuh Vivi agar memunggungiku dan mendorong tubuhnya. Posisi doggy style sambil berdiri bisa dibilang posisi kesukaanku. Vivi pun sepertinya mengerti apa yang aku inginkan. Ia menungging sambil tangannya bertumpu ke meja yang ada tepat di depannya. Ku ludahi sedikit tanganku dan ku usapkan di vagina Vivi. Tanganku yang satu mengarahkan penisku agar bisa semakin mudah menerobos masuk vagina Vivi yang terlihat begitu nikmat. Ku masukan kepala penisku sedikit demi sedikit ke dalam vagina Vivi. Dari kaca yang ada di meja, aku bisa melihat wajah Vivi yang penuh nafsu dan birahi, menikmati setiap senti penis ku yang masuk ke dalam lubang kewanitaannya. Vivi melenguh pelan saat penisku pun sudah masuk seluruhnya ke dalam vaginanya yang kesat itu.
“roy, nikmatss… Genjot terus ss….”
Aku pun menggenjot perlahan vagina Vivi. Aku ingin penisku bisa merasakan tiap permukaan di dalam vagina Vivi yang hangat itu.
Saat pinggulku sibuk menggenjot, tanganku menepuk keras dan meremas pantat Vivi bergantian. Posisi menunggangi kuda yang liar yang pernah aku lakukan sepertinya. Dari kaca di meja juga aku bisa melihat payudara Vivi yang menggantung dan bergoyang seirima dengan genjotanku di vaginanya. Pemandangan yang sungguh membuat ku ingin terus merasakannya dalam waktu yang sangat lama. Kami bertahan hampir sepuluh menit dengan posisi itu sampai akhirnya aku merasakan dorongan dari dalam penisku yang mendobrak ingin keluar dengan cepat.
“Aku mau keluar nih, vi…” Lenguhku pelan.
“Keluarin di mulut aku dong, Roy…” Pinta Vivi.
Segera ku cabut penis Vivi langsung mengambil posisi berjongkok di depan ku dan membuka mulutnya lebar. Ku kocok cepat penisku sampai dorongan yang ada tidak bisa lagi ku tahan.
“Aku keluarrrrrr” crot crot crot, begitu banyak sperma yang menyemprot keluar dari dalam penisku dan memenuhi wajah Vivi. Sperma putih kental seperti susu itu menutupi mata, hidung dan pipi Vivi. Beberapa juga masuk langsung ke dalam mulutnya dan ditelan cepat sampai habis.
Vivi memasukan penisku ke dalam mulutnya dan membersihkannya dengan lidah, dihisapnya sampai habis seluruh sperma yang tersisa di kepala penisku. Setelah itu baru ia mengusap sperma yang ada di wajahnya dengan tangan lalu memasukan sperma tersebut ke dalam mulutnya. Benar-benar haus sperma wanita ini, pikirku. Vivi tersenyum sambil tertawa kecil saat menikmati spermaku.
“Enak sekali Roy, suka deh sama sperma kamu…” ucap Vivi manja sambil mengusap usap penisku yang masih tegang.
“Sebentar ya, Roy…” Vivi berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Aku mengiyakan lalu menuju tempat tidur. Pergulatan dengan posisi berdiri lebih membuat letih ternyata. Dan aku pun masih belum habis pikir bisa menikmati tubuh Vivi. Vivi pun keluar dari kamar mandi masih tanpa busana. Ia tersenyum melihatku yang sudah berbaring di kasur dan menghampiriku, ia pun berbaring di sampingku.
“Capek, ya?” Tanya Vivi sambil mengecup pipiku.
“Yah, lumayan deh. Pegel juga berdiri, hahhaa.”
Vivi tertawa mendengar penjelasanku dan memelukku kemudian. Kepalanya disandarkan di atas dadaku. Sungguh posisi yang romantis dan membahagiakan setelah bercinta.
“Ngomong-ngomong, apa alasan kamu tidak mau serius sama wanita?? Apa supaya kamu bisa bebas untuk melakukan nya Roy??
“Hah? Aku ga begitu lah vi… Mungkin belum ketemu saja..
” Oke… Itu privasi kamu Roy, yang penting aku merasakan nyaman dengan kamu.. Katanya
” Aku ga masalah kita bisa jadi TTM.. Kataku sambil melihat nya
“Yang bener Roy? Asik!” Vivi terlihat senang sekali mendengar pengakuanku yang ingin menjadi TTMnya.
Vivi kembali mengelus elus penisku yang sudah lemas. Sepertinya nafsu birahinya kembali meninggi.
“Mau lagi ya?” tanya ku.
“He’eh.” Jawab Vivi mengangguk sambil tersenyum manja melihatku. “
“Tapi belum tegang nih, gak bisa masuk dong..
“Iya sih, mungkin kalau diciumin sama kamu, dia bakal bangun lagi…” Pintaku nakal.
Vivi mengerti mauku. Ia tersenyum dan merapihkan rambutnya lalu menuju penisku yang masih lemas itu. Dengan sekali tangkap, penisku sudah masuk seluruhnya ke mulut Vivi. Ia kembali menjilat batang penisku, menghisap penisku kuat kuat dan menjilati bagian buah zakarku. Begitu nikmat, atau sangat nikmat sepertinya. Permainan lidah Vivi sukses membuat penisku kembali berdiri.
Vivi lantas bangun dan mencoba duduk di atasku. Dipegangnya penisku dan diarahkannya ke dalam vaginanya yang masih basah sepertinya. Sekali hentakan kencang, vagina Vivi pun terisi penuh oleh penisku yang sudah keras dan membesar itu. Vivi membuka lebar mulutnya merasakan desakan kuat dari penisku yang ingin menjelajahi vaginanya lebih dalam.
“Hoooooh, kontolmu nikmat sekali rasanya roy! Aku sukaaaaaa!” teriak Vivi.
Aku tidak menyauti perkatannya, tanganku sudah sibuk meremas kedua payudaranya yang bergantung indah di dadanya. Terasa begitu nikmat kempotan vagina Vivi di penisku. Sungguh nikmat yang tiada tara.
“Uhhh, Roy, nikmattttsssss, terus Royssss…” racau Vivi sambil memainkan rambutnya. Terlihat begitu sensual nan erotis. Nafsuku pun semakin bangkit dan tak tertahankan.
Ku tarik Vivi dan ku putar posisiku agar aku yang diatasnya tanpa melepaskan penisku yang masih tertanam di dalam vaginanya.
“Genjot Roy, nikmati aku. Nikmattttttt….” seru Vivi
Aku genjot kembali vagina Vivi dengan liar dan cepat. Ku hantamkan penisku berkali kali keluar masuk vaginanya yang semakin merekah dan basah.
“Uhhh, aku mau keluar nih Roy…” Desis Vivi.
“Sabar sayang, aku juga, sebentar lagiii…” Kata ku berbisik di telinga Vivi. Lalu ku kecup leher dan kujilati lehernya sambil pinggulku masih sibuk menggenjot Vivi.
“Arrrgggghh, Roy arrrrrrggghhhhh..” Desah Vivi mendapati vaginanya yang begitu nikmat dimasuki penisku dan sapuan lidahku di lehernya yang menambah rasa geli namun nikmat itu.
“roy, gak tahan Roy sss, aku mau keluar sss…..” Pinta Vivi memelas.
“Aku juga sayangggg…” Ku percepat genjotan penisku dan ku fokuskan nikmat dipenisku agar ku bisa cepat keluar untuk mengimbangi permainan Vivi.
“Aaaaahhhsss! Aku keluarrrrrr arrrggggghhhhhhhhh….” Erang Vivi kencang.
“Aku jugaa sayanggggg arrrggggggghhh!!!” Crot crot crot, tersemburlah sperma ku untuk yang kedua kalinya. Kali ini di dalam vagina Vivi
“AAAAAAAAAAAAAHHHHHH NIKMAT Roy!!” Vivi menarik dan memelukku. Ku rasakan tangannya sedikit mencakar punggungku, mungkin ia tak bisa menahan nikmat yang ia rasakan.
Aku pun terkulai lemas di samping Vivi. Penisku langsung lemas setelah orgasme yang kedua ini. Vivi pun terlihat lemas berkeringat dan nafasnya begitu tersengal berat.
- Bersambung
Seru sekali ceritanya, lanjutkan kak🥰😍